Kisah Remaja, Parental Lock dan Sex Parenting

by 05.24 0 komentar


1342960468449153455mukaddimah
Sepasang remaja asyik berpelukan, di keremangan sebuah sudut jalan real state, lampu jalan memanglah telah lama padam di sudut komples perumahan itu. Saat head lamp kendaraan saya, menyorot mereka sekilas, mereka kaget dan melepaskan pelukan. Mereka masih duduk, tak bergeser, mereka grogi dan menindis-nindis tombol handphone-nya, sambil sesekali melirik pasangannya. Saya berlalu begitu saja, mereka pasti merasa aman dan terkendali, beberapa puluh meter saya bergegas kembali.  Benar saja, kedua anak ini melanjutkan aksi pacarannya, malah kembali couple-couple-lan.
Hadir rasa kesal di batinku, sisi lain saya anggap ini kewajiban saya untuk menasehati kedua remaja ini. Sayapun mendekatinya, bertanyalah saya “Apa ko bikin di sini berduaan?” (Ngapain kalian di sini berduaan, red) Yang lelaki menjawab: “Ndakji Om” (Gak kok Om), sedang si putri yang manis itu, menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rekaan psikologiknya; kedua remaja awal ini, pun punya rasa malu namun rasa malu terkalahkan oleh rasa, entah rasa cinta, kangen, saling menginginkan atau terkalahkan oleh gelombang pergaulan peer group (teman sebaya).
Saya sesali model pertanyaan saya serupa itu, pertanyaan itu justru ‘merendahkan’ kedua sejoli itu. Sesalah-salahnya kedua remaja itu, semestinya pertanyaan saya harus selektif. Idealnya, saya awali dengan berbasa-basi seperti: “Maaf ya Dek, apa Adek melihat seseorang yang lewat di jalan ini, berbaju biru, celana jins hitam?”.
Kehadiran saya yang melintas malam itu, cukup mengganggu mereka, sayapun terganggu pikiran. So, saya ganggu mereka, merekapun mengganggu saya. Kedua remaja itu mungkin bergumam: “Ah ini orang tua kayak tak pernah muda saja”. Sayapun bergumam: “Ah ini anak, kayak tidak ingat orangtuanya saja”. Ini bukan sebuah pendidikan yang baik. Saya takkan mengulangi kesalahan ini.
* * *
Benar saja, malam berikutnya saya temukan lagi tiga pasang remaja, kali ini mereka asyik pacaran di depan sebuah rumah tak berpenghuni. Saya menghampiri mereka dengan senyum-senyum, tak menampakkan rasa kesalku, merekapun menerimaku dengan terbuka. Saya bertanya penuh basa-basi yang tak berhubungan dengan aktifitas mereka. Tak satupun ucapanku yang menyinggung mereka. Saya malah minta izin duduk di sekitar mereka. Satu per satu mereka pamit dan berucap: “Mari Om”. Lega rasanya, sebab saya sukses ‘mengusir’ mereka dengan halus.
Parental Lock dan Sex Parenting
Berjibun sudah ajakan kepada para orang tua untuk menjaga putra-putri mereka, seiring dengan itu, remaja-remaja kitapun masihlah memertontonkan aksi-aksi pergaulan yang tidak sehat. Orang tua telah ‘takluk’ dengan sumber ‘belajar’ seksualitas dan erotisasi bernama gadget, internet dan iklan-iklan seks. Celakanya lagi, berapa banyak orang tua gugup dan gagap berkomunikasi dengan baik dengan putra-putrinya perkara seksualitas dan area kesehatan reproduksi.
Orangtua gagal membahasakan keinginannya kepada putra-putrinya, selanjutnya sang anakpun gagal bertanya kepada orangtuanya semisal soal menstruasi dan mimpi basah. Anak-anaknya lebih memilih temannya untuk dijadikan referensi soal yang gampang-gampang susah ini. Orangtua kemungkinan lebih cenderung memilih parental lock, yakni tak boleh begini, tak boleh begitu, itu salah, ini salah….!.
Era berubah, behaviour manusia juga bergerak dengan gesitnya. Gaya komunikasi orang tua dulu, rasa-rasanya tak efektif lagi digunakan untuk ukuran zaman sekarang. Dahulu kala, ayah ibu mengkomunikasikan seputar seksualitas dengan sangat halusnya. Merekapun masih menggunakan bahasa etnik, sekarang sudah berapa juta remaja yang tak fasih berbahasa daerah.
Orang tua dulu berbahasa halus, anak-anakpun telah sukses menangkap pesannya. Misalnya di kampung saya, ibu-ibu berkata kepada anak perempuannya: “Karitutui pangngolomu Nak!”. (Karitutui: jaga, hati-hati. Pangngolo: Bagian depan, bahasa halus dari payudara). Untuk putranya: “Marellauka Nak. Aja’ makkuaro Nak!”. (bahasa halus: kupinta padamu anakku, jangan berzinah). Sebuah gaya komunikasi yang berkesan, menembus di sum-sum kesadaran penuh sang anak.
Penutup
Parental lock menghadirkan kata puluhan “JANGAN”: Jangan buka-buka situs itu!, Jangan lihat gambar-gambar jorok!, Jangan bergaul sembarangan!. Jangan nonton filem begituan!, beserta JANGAN lainnya. Lantas, apa jawaban kita jika remaja-remaja kita balik bertanya: “Kenapa jangan Pak?. Kenapa jangan Buk?”. Mestikah kita menambah kesalahan dengan berkata tegas: “Pokoknya jangan!!!”. Sedangkan anak-anak remaja itu sangat ingin mengetahui mengapa anatomi tubuhnya berubah, mengapa mereka mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Haruskah kita ‘locked’ keiingintahuan mereka?. Mestikah kita diamkan yang akhirnya sang anak mencari sendiri jawabannya di luar rumah, atau di habitat lain?.
* * *
Di penghujung artikel ini, saya Muhammad Armand, Kompasianer dari Makassar, dengan kepala tertunduk dan dengan segala kerendahan hati memohon kepada segenap orang tua untuk belajar menyelami kondisi psikologik anak kita dengan cara: memahami penuh bahwa pengetahuan dan informasi pertama tentang seluk beluk seksual, orang tualah yang menjadi referensi pertama. Jangan katakan lagi bahwa urusan pengetahuan tentang seksual, kita serahkan di sekolahnya, toh ada pelajaran biologi di sekolahnya.
Bukankah lebih bijak jika kita sebagai orangtua, bermetamorfosa untuk kuat-kuatan belajar tentang kesehatan reprodukasi?. Sesederhana apapun pengetahuan kita, sangat membantu putra-putri kita dalam memahami makna seksual yang sakral dan suci itu. Izinkalah mereka memperoleh pengetahuan tentang seksualitas dengan segala keterbatasan kita. Jangan ada ucapan: “Saya bisa menjelaskannya tapi tak tahu harus mulai dari mana?”.
Jika demikian, tipsnya cukup mudah: Mulailah menjadi orang tua ‘pemberani’. Berani’ berbicara dan berdialog kepada anak-anak kita. Kelak, jika mereka memiliki anak-anak, merekapun akan terbuka dan menjelaskan kepada anak-anak mereka. Dan anak-anak mereka, tak lain dan tak bukan, toh cucu-cucu kita juga

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

    0 komentar:

    Posting Komentar