Sepasang remaja asyik berpelukan, di keremangan
sebuah sudut jalan real state, lampu jalan memanglah telah lama padam
di sudut komples perumahan itu. Saat head lamp kendaraan saya,
menyorot mereka sekilas, mereka kaget dan melepaskan pelukan. Mereka
masih duduk, tak bergeser, mereka grogi dan menindis-nindis tombol
handphone-nya, sambil sesekali melirik pasangannya. Saya berlalu begitu saja,
mereka pasti merasa aman dan terkendali, beberapa puluh meter saya bergegas
kembali. Benar saja, kedua anak ini melanjutkan aksi pacarannya, malah
kembali couple-couple-lan.
Hadir rasa kesal di batinku, sisi lain saya
anggap ini kewajiban saya untuk menasehati kedua remaja ini. Sayapun
mendekatinya, bertanyalah saya “Apa ko bikin di sini berduaan?”
(Ngapain kalian di sini berduaan, red) Yang lelaki menjawab: “Ndakji
Om” (Gak kok Om), sedang si putri yang manis itu, menunduk sambil
menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rekaan psikologiknya; kedua remaja awal ini, pun
punya rasa malu namun rasa malu terkalahkan oleh rasa, entah rasa cinta,
kangen, saling menginginkan atau terkalahkan oleh gelombang pergaulan peer
group (teman sebaya).
Saya sesali model pertanyaan saya serupa itu,
pertanyaan itu justru ‘merendahkan’ kedua sejoli itu. Sesalah-salahnya kedua
remaja itu, semestinya pertanyaan saya harus selektif. Idealnya, saya awali
dengan berbasa-basi seperti: “Maaf ya Dek, apa Adek melihat seseorang yang
lewat di jalan ini, berbaju biru, celana jins hitam?”.
Kehadiran saya yang melintas malam itu, cukup
mengganggu mereka, sayapun terganggu pikiran. So, saya ganggu mereka, merekapun
mengganggu saya. Kedua remaja itu mungkin bergumam: “Ah ini orang tua
kayak tak pernah muda saja”. Sayapun bergumam: “Ah ini anak,
kayak tidak ingat orangtuanya saja”. Ini bukan sebuah
pendidikan yang baik. Saya takkan mengulangi kesalahan ini.
* * *
Benar saja, malam berikutnya saya temukan lagi
tiga pasang remaja, kali ini mereka asyik pacaran di depan sebuah rumah tak
berpenghuni. Saya menghampiri mereka dengan senyum-senyum, tak menampakkan rasa
kesalku, merekapun menerimaku dengan terbuka. Saya bertanya penuh basa-basi
yang tak berhubungan dengan aktifitas mereka. Tak satupun ucapanku yang
menyinggung mereka. Saya malah minta izin duduk di sekitar mereka. Satu per
satu mereka pamit dan berucap: “Mari Om”. Lega rasanya, sebab
saya sukses ‘mengusir’ mereka dengan halus.
Parental Lock dan Sex Parenting
Berjibun sudah ajakan kepada para orang tua untuk
menjaga putra-putri mereka, seiring dengan itu, remaja-remaja kitapun masihlah
memertontonkan aksi-aksi pergaulan yang tidak sehat. Orang tua telah ‘takluk’
dengan sumber ‘belajar’ seksualitas dan erotisasi bernama gadget, internet dan
iklan-iklan seks. Celakanya lagi, berapa banyak orang tua gugup dan gagap
berkomunikasi dengan baik dengan putra-putrinya perkara seksualitas dan area
kesehatan reproduksi.
Orangtua gagal membahasakan keinginannya kepada
putra-putrinya, selanjutnya sang anakpun gagal bertanya kepada orangtuanya
semisal soal menstruasi dan mimpi basah. Anak-anaknya lebih memilih temannya
untuk dijadikan referensi soal yang gampang-gampang susah ini. Orangtua
kemungkinan lebih cenderung memilih parental lock, yakni tak
boleh begini, tak boleh begitu, itu salah, ini salah….!.
Era berubah, behaviour manusia juga bergerak
dengan gesitnya. Gaya komunikasi orang tua dulu, rasa-rasanya tak efektif lagi
digunakan untuk ukuran zaman sekarang. Dahulu kala, ayah ibu mengkomunikasikan
seputar seksualitas dengan sangat halusnya. Merekapun masih menggunakan bahasa
etnik, sekarang sudah berapa juta remaja yang tak fasih berbahasa daerah.
Orang tua dulu berbahasa halus, anak-anakpun
telah sukses menangkap pesannya. Misalnya di kampung saya, ibu-ibu berkata
kepada anak perempuannya: “Karitutui pangngolomu Nak!”.
(Karitutui: jaga, hati-hati. Pangngolo: Bagian depan, bahasa halus dari
payudara). Untuk putranya: “Marellauka Nak. Aja’ makkuaro Nak!”.
(bahasa halus: kupinta padamu anakku, jangan berzinah). Sebuah gaya komunikasi
yang berkesan, menembus di sum-sum kesadaran penuh sang anak.
Penutup
Parental lock menghadirkan kata puluhan “JANGAN”:
Jangan buka-buka situs itu!, Jangan lihat gambar-gambar jorok!, Jangan bergaul
sembarangan!. Jangan nonton filem begituan!, beserta JANGAN lainnya. Lantas,
apa jawaban kita jika remaja-remaja kita balik bertanya: “Kenapa jangan
Pak?. Kenapa jangan Buk?”. Mestikah kita menambah kesalahan dengan
berkata tegas: “Pokoknya jangan!!!”. Sedangkan anak-anak remaja itu sangat
ingin mengetahui mengapa anatomi tubuhnya berubah, mengapa mereka mulai
tertarik dengan lawan jenisnya. Haruskah kita ‘locked’ keiingintahuan mereka?.
Mestikah kita diamkan yang akhirnya sang anak mencari sendiri jawabannya di
luar rumah, atau di habitat lain?.
* * *
Di penghujung artikel ini, saya Muhammad Armand,
Kompasianer dari Makassar, dengan kepala tertunduk dan dengan segala kerendahan
hati memohon kepada segenap orang tua untuk belajar menyelami kondisi
psikologik anak kita dengan cara: memahami penuh bahwa pengetahuan dan
informasi pertama tentang seluk beluk seksual, orang tualah yang menjadi
referensi pertama. Jangan katakan lagi bahwa urusan pengetahuan tentang
seksual, kita serahkan di sekolahnya, toh ada pelajaran biologi di sekolahnya.
Bukankah lebih bijak jika kita sebagai orangtua,
bermetamorfosa untuk kuat-kuatan belajar tentang kesehatan reprodukasi?.
Sesederhana apapun pengetahuan kita, sangat membantu putra-putri kita dalam
memahami makna seksual yang sakral dan suci itu. Izinkalah mereka memperoleh
pengetahuan tentang seksualitas dengan segala keterbatasan kita. Jangan ada
ucapan: “Saya bisa menjelaskannya tapi tak tahu harus mulai dari mana?”.
Jika demikian, tipsnya cukup mudah: Mulailah
menjadi orang tua ‘pemberani’. Berani’ berbicara dan berdialog
kepada anak-anak kita. Kelak, jika mereka memiliki anak-anak, merekapun akan
terbuka dan menjelaskan kepada anak-anak mereka. Dan anak-anak mereka, tak lain
dan tak bukan, toh cucu-cucu kita juga
0 komentar:
Posting Komentar